iklan

my image

BACK UP HERE

SIGN UP HERE!!!!

welcome

welcome to my blog ^_^

BEST PRICE!!!!!

Sunday, May 29, 2011

Kala Cinta Meranggas Aqidah


Kesepian memang kadang menyakitkan, menoreh setiap senyum dan tawa, serta menciptakan riak anak sungai di sudut mata. Pedih dan sedih silih berganti kunjung mengunjungi. Pupus segala harap, melukai semua impian yang kadang memabukkan. Hingga, jiwa yang rapuh menciptakan serpihan kegelisahan yang memilukan.

Saat temaram rembulan menyuguhkan hidangan, terlintas sekelebat bayang. Disibaknya kegelapan, namun entah dimana ia berada. Kecewa, hingga guratan keresahan menyibukkan kelamnya malam. Kebisuan yang menusuk-nusuk, membuat kedukaan semakin berat, hingga menghujam akal dan aqidah. Air mata semakin deras tumpah, lelah, tubuh pun mencoba rebah. Namun jiwa ini lemah, mata air di telaga yang coba dibendungnya kembali menerobos kelopak mata, ke pipi, hingga membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya.
Cinta...
Entah berapa banyak pahlawan yang tercipta karenanya, namun cinta juga kadang melahirkan para pecundang. Ia laksana kobaran api yang berasal dari setitik bara, menyuluh, namun dapat pula membakar. Impian cinta membuat hati dan raga terselimuti bahagia, memompa harapan yang keluar masuk melalui butiran darah. Mengharapkan kakanda tercinta yang siap mendampingi saat tawa dan air mata, hingga terbentang siluet istimewanya seorang wanita yang telah menikah, mengandung, dan melahirkan si kecil dengan selimut kasih sayang.

Namun, impian berbeda dengan kenyataan. Sepi semakin menggerogoti hari, sendiri... dan masih sendiri.
Duhai belahan hati, entah dimana kakanda bersembunyi.
Ukhti sholehah yang dicintai Allah Ta'ala...
Cinta dan impian membentuk sebuah keluarga memang begitu indah. Namun takkala ia belum menyapa, janganlah membuat gundah dan resah, bahkan merubah pandangan terhadap Sang Pemilik Cinta. Kegelisahan jangan pula membuatmu menggadaikan aqidah, karena sungguh harta itu tak ternilai harganya. Tak ada yang dapat membelinya, apalagi dengan basa-basi cinta yang menyelubungi halleluyah.

Cinta yang membara tak akan dapat menghapus ketentuan Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman..." [Al Baqarah: 221]. Namun, ajaran junjungan Rasulullah Sallallaahu Alayhi Wasallam akan pupus, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, dan tidak dalam benci tapi dalam cinta [Henry Martyn, missionaris, 1812 M].

Cinta akan membentuk sebuah keluarga samara (sakinah, mawaddah wa rahmah) karena kesamaan iman dan aqidah, dalam naungan ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jangan biarkan sedikitpun celah hatimu terbuka dengan cinta berselaput halleluyah, karena cinta seperti itu akan meranggas aqidah. Pernikahan dengan keyakinan yang berbeda, tak akan melahirkan ketenteraman jiwa, karena ia adalah zina.

Dapatkah engkau menjawab saat anakmu bertanya, mengapa ayah selalu pergi setiap hari Minggu, sedangkan dirimu ruku' dan sujud? Bisakah engkau menjelaskan saat anak laki-lakimu bertanya, mengapa ayah tidak pergi sholat Jum'at padahal dirimu berbicara panjang lebar tentang kewajiban menunaikannya? Atau, mengapa ayah tidak mengucapkan bismillah tapi atas nama Bapa, Putera dan Roh Kudus? Juga, mengapa Tuhannya ayah ada 3 sedangkan dirimu selalu mengucapkan ahad... ahad... ahad?
Mampukah engkau menjelaskan semua itu dan banyak lagi kepada buah hatimu?

Duhai ukhti, sanggupkah engkau menahan murkanya Allah Subhanahu wa Ta'ala?

Saat jiwamu lelah bertanya dimanakah gerangan kekanda berada, kembalilah kepada Sang Pemilik Rahasia, lantunkan munajat dan do'a, mohon tetapkan iman untuk selalu terhatur kepada-Nya. Jadikan hati ini selalu ikhlas serta rela atas setiap keputusan-Nya.

As'alukallahummar ridha ba'dal qadha, wa burdal 'iisyi ba'dal maut, wa ladzdzatan nazhori ila wajhika, wa syauqon ila liqaa'ika.
Ya Allah, aku mohon kerelaan atas setiap keputusan-Mu, kesejukan setelah kematian, dan kelezatan memandang wajah-Mu serta kerinduan berjumpa dengan-Mu.

Mohonkan juga kepada-Nya, agar Ia menguatkan niat dan azzam kepada lelaki yang belum menikah untuk segera menyempurnakan setengah agama, sehingga dirimu serta pasangan jiwa tercinta dapat bersama membangun sebuah istana kecil nan indah dalam naungan ridho-Nya.
Duhai ukhti sholehah...
Sabar... dan bertahanlah. Kalaulah Allah Subhanahu wa Ta'ala menakdirkan dirimu sebagai lajang di dunia ini, yakinlah di surga ada yang setia menanti. Kuatkan hati, tegar... dan selalu tegar, karena dirimu memiliki harta yang tak ternilai harganya, yaitu aqidah.

Wallahua'lam bi showab.

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah


Abu Aufa
(Terhatur kepada para ukhti yang masih sendiri, yakinlah cinta-Nya jauh lebih berharga dari cinta yang berselimutkan halleluyah)

Lingkaran Setan Kesedihan



Ketika seseorang merasa jengkel terhadap temannya dan tidak mampu membalas dendam, maka ia akan mendengkinya. Hatinya akan mendidih setiap kali namanya disebut-sebut. Ia pun lantas hasud dan mengangankan segala keburukan bagi orang tersebut. Jika sudah demikian, berarti ia sudah masuk ke dalam lingkaran setan kesediha, menuju pergolakan amarah dan penghancurannya, untuk kembali merasa jengkel, lalu dengki, lantas hasud, dst.

Jadi, berhentilah marah dan tenangkanlah diri Ukhti.

Dalam berbagai kesempatan seringkali istilah marah, iri, dan dengki dibahas secara panjang lebar. Selain kesemuanya sebagai penyakit hati, ada salah satu lagi penyakit hati yang sering muncul tanpa disadari. Penyakit ini bernama hasud. Hasud seperti marah, iri, dan dengki juga bermula dari lingkaran setan kesedihan.

Apakah Hasud Itu?
Pernahkah suatu ketika Ukhti mendengar berita baik yang diterima oleh teman kita lantas kemudian merasa bersedih dan berharap kenikmatan yang ia peroleh segeran raib. Itulah hasud.

Sayyid Quthb menjelaskan, Hasud adalah reaksi psikologis terhadap nikmat Allah atas sebagian hamba-Nya disertai harapan keraibannya (dari tangan orang tersebut), baik si penghasud menindaklanjuti reaksi ini dengan upaya riil untuk menghilangkan nikmat tersebut ataupun hanya sebatas reaksi psikologis semata. Hasud adalah kejahatan yang harus dimohonkan suaka dan perlindungan Allah dari segala ekses buruknya.

Abu Hamid Al-Ghazali mengatakan, “Ingat, hasud memang hanya terjadi pada urusan kenikmatan, namun kompetisi/persaingan juga bisa disebut hasud”.

Mengapa Hasud Haram?
Pada hakikatnya, hasud adalah ketidakpuasan terhadap Qadha Allah dan kemarahan atas pengutamaan Allah terhadap satu hamba atas hamba yang lain. Ini adalah perilaku orang munafik.

”Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Ali Imran, 3:120)

Bergembira saat seseorang ditimpa musibah adalh keburukan sejenis syamaatah, dan ia adalah saudara sekandung hasud. Orang yang hasud adalah orang yang memusuhi nikmat Allah, marah dengan keputusan Qadha-Nya, dan tidak puas dengan bagian yang telah Dia bagikandi antara hamba-hamba-Nya.

Peringatan Khusus Kaum Wanita

”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain.”(Q.S. An-Nisa, 4:32)

Dikisahkan beberapa wanita berseru, “Andai saja kita laki-laki, tentu kita bisa ikut berjuang sebagaimana mereka berjuang dan kita pun bisa ikut berperang di jalan Allah…”. Ayat diatas pun turun dan melarang kaum wanita untuk berangan-angan menjadi laki-laki (agar bisa mencicipi keutamaan yang diberikan Allah kepada mereka).

Hasud Yang Halal
Rasulullah SAW bersabda, “Dilarang hasud(iri) kecuali pada dua orang: Laki-laki yang dikarunai oleh Allah (kemampuan membaca) Al-Quran lalu ia membacanya siang dan malam, dan laki-laki yang dikaruniai kekayaan oleh Allah, lalu ia menginfakkannya siang dan malam.”(H.R.Al-Bukhari)

Obat Penyembuh Hasud
Hasud bukanlah kezaliman yang harus dilepaskan, sebab ia merupakan musibah antara kamu dan Allah SWT. Akan tetapi yang harus kamu hindari ialah perbuatan-perbuatan yang bersumber darinya. Dan karena hasud termasuk penyakit hati, maka penyakit ini dapat diatasi dengan dua cara :

1. Ilmu
Orang alim adalah orang yang tidak hasud pada orang yang lebih tinggi dan tidak melecehkan orang yang lebih rendah (tingkat keilmuannya).
Ada sebuah pandangan cerdas tentang hasud yang dikemukakan oleh Muhammad bin Sirin, salah seorang tokoh tabi’in. Ia mengatakan,

”Aku tidak pernah hasud pada seorang pun dalam masalah duniawi, sebab jika ia termasuk penghuni surga, bagaimana mungkin aku menghasudinya atas masalah keduniaan sementara ia begitu remeh di surga? Pun jika ia termasuk penghuni neraka, bagaimana aku mau menghasudinya atas masalah keduniaan sementara ia bakal ke neraka?”

Termasuk obat oenawar hasud adalah dengan melihat pahala orang-orang yang memiliki hati yang bersih dari penyakit ini.

2. Amal
Dengan amal proses pengurungan hasud bisa berjalan dengan sempurna. Caranya, cobalah semaksimal mungkin melakukan hal yang berlawanan dengan segala sesuatu yang menjadi konsekuensi rasa hasud, entah itu berupa ucapan maupun perbuatan. Langkah awalnya adalah dengan menggemari apa yang ada di sisi Allah (pahala dab surga).

Hasud adalah senjata makan tuan, sebab ia menghasilkan berbagai mudarat keduniaan maupun mudaratkeagamaan…


Disadur dari
“Manajemen Diri Muslimah”, Buku 2
karangan Dr.Akram Ridha

Kiprah Muslimah Di Kancah Dakwah

Berdakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim dan ia bukan hanya menjadi dalam QS Al Itanggung jawab kaum pria saja, tetapi juga kaum wanita. Allah Imran (3) : 104:

“Dan hendaklah ada di antara kamu, sebagian umat yang menyeru kepada kebajikan, meyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dari ayat tersebut, secara umum memerintahkan setiap muslim, termasuk pula muslimah untuk
IAllah , kaumrturut ambil bagian dalam pergerakan dakwah Islam. Sejak zaman Rasulullah muslimah memegang peranan yang penting dalam menyebarluaskan syiar Islam. Seperti Ummul Mukminin Aisyah yang dikenal sebagai tokoh muslimah teladan yang dengan kedalaman ilmunya, sebagai hasil

tarbiyah langusng dari suami , beliau menjadi sumber rujukan
rsekaligus manusia yang paling utama, Rasulullah oleh para sahabat dan kaum muslimin saat itu. Bahkan dalam sejarah Islam beliau yang paling banyakrdikenal sebagai salah satu dari sahabat Rasulullah meriwayatkan hadits.

Melihat kondisi ummat manusia dewasa ini khususnya kaum muslimin, maka dakwah lil Islam ini terasa semakin dibutuhkan sebagai penerangan kepada kaum manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Tersebarluasnya kemaksiatan dan dekadensi moral, pelecehan terhadap sebagian atau seluruh syari’at Islam, dan lain sebagainya, semakin menuntut keterlibatan kaum muslimah untuk menyerukan kebenaran Islam, secara lisan maupun perbuatan. Di sinilah terlihat jelas peran aktif muslimah dalam dakwah Islamiyah

Beberapa hal yang menjadi bekal dalam da’wah

Sebelum melangkah jauh dalam da’wah, ada beberapa hal yang perlu menjadi bekal dan perhatian seorang muslimah dai’yah di antaranya :

1. Seorang muslimah daiyah hendaknya memiliki pemahaman yang mendalam akan ilmu-ilmu syar’i, makna-makna, dan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ini adalah bekal pokok dalam berdakwah. Tanpa bekal ilmu yang cukup, maka ia tidak akan mungkin bisa menyampaikan kebenaran yang haq kepada manusia. Betapa banyak saat ini orang-orang yang berdakwah tidak dilandasi dengan ilmu dan pemahamn yang benar tentang Islam. Akibatnya, mereka bukannya mengeluarkan manusia dari kebodohan dan kenistaan, justrue sebaliknya, mereka malah membuat ummat ini semakin jauh dari kebenaran. Tidaklah mengherankan jika ummat ini semakin terpuruk dalam berbagai klemersotan, kemunduran, penganiayaan, dan pelecehan oleh ummat-ummat lain. Itu semua pada prinsipnya kembali pada ummat ini sendiri yang tidak mau kembali kepada ajaran Islam yang murni. Karena kebodohannya, mereka hanya mau menjalankan Islam sebatas apa yang mereka terima dari nenek-nenek moyang mereka, padahal sesungguhnya mereka itu sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Benarlah :
Ikiranya firman Allah

“Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.” (Al Maaidah : 104).

Yang lebih parah lagi adalah, sebagian besar kaum meuslim menganggap baik peribadatan yang mereka lakukan, padaha; apa-apa yang mereka lakukan itu sungguh sangat jauh dari Al Qur’an, As Sunnah, dan pemahaman para salafushshaleh. Peribadatan-peribadatan bid’ah dianggap baik sementara peribadatan-peribadatan yang mengikuti sunnah dianggap asing, bahkan dijauhi dan dicemoohkan.

Semakin dilazimkannya perbuatan-perbuatan kemungkaran dan semakin banyaknya syubhat tentang dien ini, sungguh-sungguh membutuhkan ilmu dari seorang dai/daiyah untuk dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil. Mana perkara yang masyru’ dan mana yang bid’ah. Mereka inilah yang akan mampu mengeluarkan ummat Islam dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Allah

: berfirman dalam Al Qur’an surah
I An Nahl (16) : 89: وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلَاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِين (النحل :89) (Dan Ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammmad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan telah Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Islam.
Dalam riwayat Imam bersabda :
rAhmad dan Imam Ibnu Majah, Rasulullah
تَرَكْتكم عَلى المثل بَيْضَاءِ ليلها كنهارها لاَ يَزِيْغ عَنْهَا إلا هَالِكَ
Saya telah meninggalkan kamu wahai umatku seperti baidhoh yang sangat putih (artinya : sangat jelas/terang sekali), malamnya sama dengan siangnya, tidak ada yang berpaling dari syariatku kecuali ia akan binasa.

2. Iman yang dalam yang melahirkan cinta kepada Allah, takut kepada-Nya (siksa-Nya), optimis akan rahmat-Nya dan mengikuti segala petunjuk Rasulullah. Keimanan ini sangatlah dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dakwah yang semakin besar. Seorang daiyah perlu membentengi diri dengan keimanan sehingga ia tidak akan mudah terbawa oleh arus kemerosotan yang terjadi di sekelilingnya. Dengan keimanan pula, seorang dai dan daiyah akan bisa tetap untuk istiqomah dengan kebenaran yang diembannya, seberapapun besar penentangan yang ia hadapi, seberapapun keji fitnah yang menimpanya. Seorang dai/daiyah yang memiliki keimanan di dadanya, tidak akan pernah merasa khawatir dan takut akan apapun, karena ia yakin akan kekuatan yang Maha Tinggi dan Maha Besar milik Allah Allah pun telah menurunkan ketenangan di hati orang-orang yang beriman,
I sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Fath (48) : 4:
هوالذىانزلالسكينةفىقلوب المؤمنين ليزدادواإيمنامع إيمنهم... (الفتح : 4)
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada) ...”

Di dalam ayat berfirman:
Iyang lain Allah
...
وإذاتليت عليهمءايته،زادتهم إيمنا... (الأنفال:2) “...dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) ... (QS Al Anfaal : 2)
Dalam Al Qur’an Surat Al Muddatstsir (74) : 31:
وَمَاجَعَلْنَاأَصْحبَ النارِإِلامَلئِكَهِ وَمَاجَعَلْنَاعِدتَهُمْ إِلافِتْنَةً لِلذِينَ كَفَرُوالِيَسْتَيْقِنَ أُوتُواالكِتبَ وَيَزْدَادَالذِينَءَامَنُواإِيمناً... (المدثر:31) “Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya...”

3. Selalu berhubungan dengan Allah dalam rangka
rtawakkal atau meminta pertolongan-Nya dalam da’wah. Dalam hadits Rasulullah bersabda:
وإذا سأ لت قا سئل الله وإذا الستعنت فستعن بالله
“Dan apabila , dan apabila kamu meminta
Iengkau meminta maka mintalah kepada Allah ”.Ipertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah

4. Membina diri untuk berakhlak mulia. Hal ini juga harus mendapat perhatian dari para muslimah daiyah, karena mereka adalah orang yang menjadi pencerminan kebenaran yang ia bawa. Islam akan dengan mudah didakwahkan apabila para mad’u melihat refleksi dari ajaran tersebut pada diri seorang daiyah. Sebaliknya, orang justru akan menjauhi seorang daiyah, apabila ia menyeru manusia kepada kebenaran akan tetapi ia sendiri tidak melakukan kebenaran tersebut.
:
IFirman Allah Allah أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (البقرة :44) Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
Kalau ada yang menasehati dengan ayat ini, jangan dikatakan “itu ditujukan hanya kepada orang Yahudi”. Memang ayat ini pertama kali diturunkan kepada Yahudi, namun ia berlaku secara umum; bahwa siapasaja yang berlaku dengan kelakuan
Iseperti itu berarti dia telah melakukan kesalahan, dan sebagaimana Allah mencela orang Yahudi maka Allah juga mencela orang tersebut.

Daiyah yang seperti ini selain hanya akan menjadikan cemoohan manusia, juga yang lebih . Kemunduran
Iberbahaya lagi adalah mendatangkan celaan dan laknat dari Allah Islam saat ini sedikit banyaknya juga dipengaruhi oleh tidak atau kurangnya panutan dari para daiyah, sehingga ummat Islam ini tidak bisa melihat figur pemimpin ummat yang betul-betul bisa dicontoh akhlaknya. Sebaliknya, pada zaman Rasulullah dan para salaf dahulu, umat Islam begitu mudah tersentuh oleh siraman Islam karena mereka juga melihat kebenaran dan cahaya Islam itu terpancar dari dalam diri para pendakwah pada masa tersebut. Dari sirah Rasulullah dan berbagai kisah para salaf, kita membaca dan mendengarkan bagaimana ummat manusia pada masa tersebut begitu mengelu-elukan para ulama jauh melebihi para penguasa. Kita mempelajari bagaimana masyarakat Islam saat itu menanti-nantikan kehadiran para ulama yang mereka yakini akan menyampaikan sesuatu yang menentramkan hati dan membawa keselamatan bagi mereka, bukan hanya orang-orang yang lisannya menyampaikan kebenaran namun hatinya dipenuhi dengan berbagai perkara syubhat dan menyebarkan syak kepada ummat, serta bukan pula daiyah yang hanya bagus penampilannya namun hatinya dipenuhi dengan kurafat, dan perkara-perkara bid’ah.

Agar bisa menjadi seorang daiyah dengan akhlak yang baik, maka ia mesti berusaha untuk dapat memiliki hati yang selamat. Hati yang selamat (Qalbun Salim) adalah hati yang bersih dari segala macam noda-noda baik kesyirikan, bid’ah, syahwat (hawa nafsu) juga masalah syubhat dan bersih dari . Sehingga hatinya ini penuh dengan cinta karena
Ima'siyat-ma'siyat kepada Allah yakni memberiI, yang menggerakkan dirinya untuk beramal adalah Allah IAllah semuanya karena Allah I, benci karena Allah I, cinta karena Allah Ikarena Allah . Dan inilah hatinya orang mukmin yang benar keimanannya yang pastiI . Cara yang paling tepat adalah adalah dengan AlImendapatkana syurga Allah sebagai syifaa’ (obat) IQur’an . Karena Al Qur’an ini diturunkan oleh Allah dalam QS. Yunus :Ipenyakit-penyakit di hati sebagaimana disebutkan oleh Allah 57:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dan yang dimaksud dengan
مَوْعِظَةٌ di sini adalah Al Qur’an itu sebagai obat bagi penyakit-penyakit dalam hati. Ayat lain pada QS Al Furqan : 30-31
وقال الرسول يارب إن قومي اتخذوا هذا القرءان مهجورا(30)وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا من المجرمين وكفى بربك هاديا ونصيرا(31)
Berkatalah Rasul : “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan”. Dan seperti itulah, telah Kami adaka bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pemberi petunjuk dan Penolong

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah ketika menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa termasuk meninggalkan Al Qur’an adalah ketika kita tidak menjadikannya sebagai obat, terutama obat bagi penyakit hati. Dan yang paling bisa menyembuhkan penyakit yang ada di dalam hati adalah Al-Qur'an.

mengatakan dalam ayat lain bahwa hati itu bisa tenang dengan
IAllah dalam Al Qur’an Surah 13:28 Izikir kepada Allah
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Afdhalnya zikir adalah membaca Al Qur’an. Karena itulah jika kita ingin memperbaiki anggota tubuh kita hendaklah dengan memperbaiki hati kita dan siapa yang mau memperbaiki hatinya maka jalan yang paling baik untuk itu adalah pendekatan diri kita dengan sedekat-dekatnya dengan Al Qur’an.

5. Memahami hakekat da’wah dengan sempurna. Ada beberapa prinsip dalam dakwah yang mesti diperhatikan:

Dakwah pertama yang dilancarkan adalah dakwah tauhid yang menyeru manusia untuk hanya menyembah Allah semata, sebagaimana yag diserukan setiap rasul pada umatnya.
اُعْبُدُوْا اللهَ مَالَكْم مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ (الأعراف : 59)
“Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sembahan yang haq bagimu selain-Nya.” (Al ‘Araf : 59)
juga berfirman:
وَلَقَدْIAllah بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ (النحل : 36)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan kauhilah thaghut itu.” (An-Nahl : 36)

Dengan demikian, misi pertama dan utama dalam berdakwah adalah bagaimana mengajak umat manusia untuk memurnikan tauhid yang akan berlanjut pada kemurnian pelaksanaan ajaran tauhid itu menurut Al Qur’an .
rdan Sunnah Rasulullah
One.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitabnya Al’Amru bil Ma’ruf wannahyi Anil Mungkar bahwa kewajiban ini (mengajak kepada al-ma’ruf nahi munkar) adalah kewajiban atas keseluruhan umat, dan ini yang oleh para ulama disebut fardhu kifayah. Apabila segolongan dari umat melaksanakannya, gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Seluruh umat dikenai kewajiban itu. Tetapi bila segolongan umat telah ada yang melaksanakannya, maka tertunaikan kewajiban itu dari yang lain”.

Kemudian dikatakan bahwa sesungguhnya fardhu kifayah dan pelaksanaannya menghendaki pentingnya realisasi sesuatu yang diperintahkan itu, dan penerapannya, serta golongan yang jadi sasaran perintah itu dapat menerimanya secara nyata. Apabila mereka tetap dalam kesesatan, mengikuti hawa nafsu, senang dalam kedurhakaan dan terjerumus dalam kesalahan, maka semua orang Islam tetap dalam beban kewajiban tersebut .
Two.
Diwajibkan kepada setiap muslim melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam hal-hal dimana orang berilmu dan orang bodoh sama di dalamnya, seperti zina, minum khamar (minuman keras), riba, ghibah, mengadu domba, dusta, bersumpah dengan selain Allah dan sifat-sifat-Nya, mengandalkan diri kepada selain Allah Yang Maha Pemberi Rezeki, mengganggu manusia, menolong orang dzalim, meninggalkan shalat, tidak menunaikan zakat, puasa, haji dan hal-hal lain yang sudah diketahui secara umum di kalangan perseorangan umat, baik peringatan itu bermanfaat atau tidak, baik peringatan berfirman:
Iitu bermanfaat atau tidak. Allah
فَذَكِّرْإِن نَّفَعَتِ الذِّكْرَى
“Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat”. .
Three.
Kewajiban berdakwah (amar ma’ruf nahi munkar) hanyalah menurut kemampuan yang ada. Ada suatu riwayat dari Abu Juhaifah, ia menceritakan: Ali ra pernah berkata:

“Sesungguhnya jihad pertama yang harus diatasi adalah jihad dengan tangan kalian, kemudian jihad dengan lisan, lalu dengan hati. Dan barangsiapa hatinya tidak mengetahui kebaikan (al ma’rif) dan menentang kemunkaran (al munkar), maka ia jungkir-balik, yang di atas menjadi di bawah.”

Ibnu Mas’ud berkata:

“Celakalah orang yang hatinya tidak mengenal (mengetahui) kebaikan dan kemungkaran.” Itu menunjukkan, bahwa mengetahui kebaikan dan kemungkaran dengan hati merupakan kewajiban yang tidak bisa lepas dari seseorang, maka bagi yang tidak tahu, celaka ia. Adapun penentangan dengan tangan dan lisan, kewajibannya hanyalah menurut kemampuan seseorang .

6. Mampu mengatur strategi dan manajemen dakwah, dimana tidak dapat dipungkiri bahwa kedua hal ini merupakan suatu kemutlakan. Tanpa strategi dan manajemen yang baik, maka pergerakan dakwah tidak akan mampu secara optimal mencapai sasarannya. Selain itu, salah satu faktor yang menyebabkan dakwah Islam banyak yang mengalami kegagalan, atau paling tidak mandeg di tengah jalan, adalah karena kurangnya strategi dan manajemen dakwah yang baik. Di sisi lain, kita melihat bahwa musuh-musuh Islam serta kaum munafikin justru semakin gigih dalam meluluhlantakkan gerakan pejuang-pejuang Al Qur’an dan As Sunnah dengan senantiasa memperbarui strategi dan manajemen mereka. Tidak ada cara yang lain yang lebih baik dari hal ini kecuali dengan kembali ke Al Qur’an dan .
rmempelajari bagaimana strategi dan manajemen dakwah Rasulullah

7. Persiapan yang benar dan matang, serta pemahaman yang baik akan prioritas dakwah. Dalam hal ini Islam lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas, dan yang diakui adalah mutu bukan jumlah bilangan, Maha Benar Allah yang beriman: “Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah”. (Al Baqarah : 249).
Seorang daiyah hendaknya tidak bersikap tergesa-gesa dan bijaksana dalam menaggapi setiap perubahan yangterjadi apakah perubahan yang baik atau perubahan yang kurang baik. Pada saat mengalami keberhasilan, tidak takabbur dan lupa akan tujuan awal dari dakwah itu sendiri, yang justru bisa berbalik menjadi suatu kondisi keterpurukan yang tidak terduga. Apa yang terjadi dalam Perang Hunain hendaknya menjadi pelajaran yang cukup bagi setiap muslimah untuk bersikpa bijak dalam menaggapi keberhasilan.


“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kam lari ke belakang denga bercerai-berai”. (At Taubah : 25)

8. Faham bahwa da’wah adalah kewajiban Islam dan caranya diatur dalam Islam, hingga tidak menghalalkan segala cara. Beberapa rambu jalan (‘alamat dlauiyyah) yang hendaknya diperhatikan oleh juru dakwah :
One. Ayat pertama “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS 2 : 44) Two. Ayat kedua “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS 2 : 159 – 160) Three. Ayat ketiga
“Dan hendaklah ada di antara kamu, sebagian umat yang menyeru kepada kebajikan, meyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
Four. Ayat keempat
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3 : 110).
Five. Ayat kelima
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS 5 : 78 – 79)
Six. Ayat keenam
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu bila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 5 : 105)
Seven. Ayat ketujuh
“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan, dan di hari-hari yang bukan hari Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. demikian Kami mencoba mereka karena berlaku fasik.”

Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengadzab mereka dengan adzab yang sangat keras” Mereka menjawab: “Agar kami punya alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.”

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan kami timpakan kepada orang-orang yang dzalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “jadilah kamu kera hina!” (QS 7 : 163 – 166)
Eight. Ayat kedelapan “Dan peliharalah dirimu daris iksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS 8 : 25)
Nine. Ayat kesembilan
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang paling baik. sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS 16 : 125)
Ten. Ayat kesepuluh
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS 41 : 33)

9. Seorang da’iyah mesti memahami metodologi da’wah. Seseorang daiyah harus mengenal karakter mad’u (objek dakwah) dan bi’ah (lingkungan) sehingga mampu menentukan metode dakwah yang sesuai dengan kondisi yang berbeda-beda. Seorang daiyah harus mengetahui metode dakwah Rasulullah dan para salaf dalam menyebarkan Islam di berbagai kalangan masyarakat mulai dari kalangan penguasa (politikus) hingga kepada masyarakat Badui.

10. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dimana bagi seorang da’iyyah, tidak ada waktu baginya kecuali waktu tersebut senantiasa diisi dengan berbagai aktifitas kebaikan. Sebagaimana dalam Al Qur’an Surah Al Ashr, dimana pada surah tersebut, manusia dikatakan merugi kecuali orang-orang yang beriman dan yang mengisi waktu-waktunya dengan mengerjakan amal-amal shalih, serta tolong-menolong dalam kebenaran dan kesabaran. Bagi seorang da’iyyah, tidak ada waktu untuk istirahat kecuali waktu untuk memenuhi hak-hak dirinya dan keluarganya. Bahkan dalam keadaan berbaring, akalnya senantiasa ia gunakan untuk berpikir.

Penutup Demikianlah beberapa hal yang kiranya perlu mendapat perhatian dari setiap muslimah da’iyah. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah upaya setiap muslimah untuk berada sedekat mungkin dengan Al Qur’an dan As Sunnah yang dengan demikian akan membantu dia untuk tetap berada di atas manhaj yang benar berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman para salafushshaleh. Bagaimanapun juga, seorang muslimah da’iyah tidak akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban kifayahnya kepada orang lain selama ia belum mampu menegakkan fardu ‘ain di dalam dirinya. ,
ILebih khusus lagi dalam kaitannya dengan kewajibannya sebagai hamba Allah wallahu a’lam.

Maraji’: 1. Hakikat Tauhid dan makna
لاإله إلاالله, Syaikh Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan 2. Terjemahan Kitab Amar Ma’ruf Nahyi Munkar, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah 3. Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah, Fathiyakan 4. Rekaman materi Tafsir Surah Al Fathihah, daurah syar’iyyah ke-9 Wahdah Islamiyah, Sabtu/27 Juli 2002 M, Syaikh Fahad Al ‘Azany, Penerjemah : Ustadz Ilham Jaya, Lc 5. Rekaman materi Al Iman, daurah syar’iyyah ke-9 Wahdah Islamiyah, 1423 H/2002 M, Syaikh Abdullah Muhammad Az Zaidani

HOT DEAL

ONLINE SHOPING