BEST PRICE!!!!!
Sunday, July 3, 2011
Efek rumah kaca
Thursday, May 19, 2011
Ilmuwan Temukan Cara Bangkitkan Spesies Punah
Kode untuk hewan yang sudah punah diperkirakan telah hilang juga bersama dengan terkuburnya hewan-hewan tersebut. Namun mesin di laboratorium DNA Smithsonian mulai mengerjakan hal-hal yang tidak mungkin terjadi. “Studi DNA mampu menembus waktu 20 tahun lalu atau kurang. Ide bahwa DNA dari makhluk hidup yang telah punah dapat diciptakan ulang dari tulang fosil mempelajari sesuatu lebih jauh lagi,” kata profesor biologi molekuler dan genetika di Universitas Wisconsin Sean Carrol. Spesimen tua yang telah terkubur jauh dalam museum sejarah alam seperti Smithsonian tiba-tiba menjadi penemuan potensial bagi informasi genetika. Tahun 2009 lalu, dengan menggunakan beberapa gumpalan rambut mammoth yang seperti wol, ilmuwan dari Penn State mampu mengekstrak fragmen DNA yang cukup untuk menentukan kandungan genetikanya, membuat wol mammoth tersebut menjadi bagian tubuh hewan punah itu bisa dikodekan gennya. Membangkitkan salah satu jenis hewan ini menjadi penting, dan ilmuwan mengatakan bahwa hal tersebut bisa menjadi rekayasa genetika terbaru. Mengambil makhluk hidp yang berhubungan dengan mammoth, gajah misalnya, bisa menentukan semua tempat dimana perbedaan DNA antara gajah dengan mammoth dan kemudian memodifikasi DNA gajah agar cocok. Tetapi hal tersebut belum bisa terealisir, jadi ilmuwan akan melakukan opsi kloning. Ketika ditanyakan kemungkinan mendapatkan DNA hewan punah seperti rambut wol mammoth untuk membuat klonnya, Carrol mengatakan, “Ya, saya kira kami akan bisa mendapatkan banyak hal dari DNA rambut mammoth.”
Teknologi Baru Atap Rumah Yang Menghasilkan Listrik di India !
Pemerintah India saat ini tengah intens berdiskusi dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di AS guna mendapatkan lisensi untuk menggunakan purwarupa atap penyimpan energi berkapasitas 1 Megawatt. "Kami terus berkomunikasi dengan MIT, agar bisa bekerjasama memasang atap penyimpan energi untuk rumah dan perkantoran di India," kata Sekretaris Kementrian Bidang Energi India H S Brahma, seperti dikutip dari Times of India , Selasa (12 /1 /2010). Kementrian Bidang Energi India telah mengajukan proposal kerjasama dengan MIT dibawah pengawasan Indo-US Science and Technology Forum untuk mengembangkan prototip baterai penyimpan energi, dan menjadikannya produk komersil yang bisa memenuhi kebutuhan energi di India. Dengan memanfaatkan panel matahari, sebuah atap yang berfungsi sebagai baterai penyimpan energi akan mengubah cahaya matahari menjadi listrik hingga 1 MW dan menyimpannya. Energi yang tersimpan pada atap ini menjadi pasokan energi yang bisa memberikan daya bagi satu desa atau wilayah kota kecil. "Menjadi negara tropis dengan matahari yang bersinar cerah selama 10 bulan setiap tahunnya adalah modal dasar bagi India. Kondisi ini cocok bila didukung dengan teknologi baterai penyimpanan energi seperti ini," tandas Brahma.
Dunia Menuju Pembekuan 30 Tahun ke Depan !
Beberapa ahli percaya bahwa siklus laut dapat menjelaskan semua perubahan besar temperatur dunia di abad ke-20. Menurut Pusat Data Es dan Salju Nasional Amerika Serikat, pemanasan global bumi sejak 1900 adalah karena siklus laut alamiah, dan bukan karena gas rumah kaca buatan manusia. Dan saat ini siklus telah berpidah ke keadaan dingin di mana data menyebutkan sejumlah es di Artktik meningkat lebih dari seperempat keadaan normal sejak 2007. Penelitian dilakukan oleh para ilmuwan iklim ternama, termasuk Profesor Mojib Latif. Dia adalah anggota Panel Antar Pemerintah PBB dalam perubahan iklim. Dia dan koleganya memprediksi tren penurunan suhu pada tahun 2008 dan disampaikan lagi dalam konferensi IPCC di Jenewa pada bulan September. Profesor Mojib Latif bekerja di Institut Leibniz di Universitas Kil Jerman. Dia telah mengembangkan metode pengukuran temperatur laut dengan kedalaman 3.000 kaki, di mana siklus dingin dan hangat bermula. Di Eropa faktor krusialnya adalah temperatur di tengah laut Atlantik Utara. Dia mengatakan siklus laut semacam itu dikenal dengan nama osilasi decade atau MDO.
NASA Temukan Pohon di Planet Mars
Foto menunjukkan bukit pasir memiliki lapisan tipis karbon dioksida beku atau es kering, kurang dari 240 mil dari kutub utara planet. "Pohon" itu sebenarnya jejak puing yang disebabkan oleh tanah longsor, saat es mencair di musim semi Mars. Foto ini diambil di sekitar orbit Mars oleh HiRISE, kamera paling kuat yang dikirim ke luar planet bumi. "Coretan itu adalah pasir, copot seperti es menguap, yang meluncur menuruni bukit pasir. Pada saat ini seluruh Mars ditutupi oleh CO2 yang membeku," kata Candy Hansen dari NASA kepada The Sun. Bulan lalu NASA mengumumkan teleskop baru telah mendeteksi lima planet di luar tata surya. Observatorium yang diluncurkan tahun lalu untuk mencari bumi lain itu, telah mendapat penemuan hanya dalam beberapa minggu pertama operasi. Meskipun dunia baru yang disebut exoplanets itu semuanya lebih besar dari Neptunus, tapi NASA mengatakan teleskop pemburu planet mereka bekerja dengan baik.
Siput Langka Berbadan Flora dan Fauna !
TAMPAKNYA siput laut ini makhluk pertama yang tubuhnya setengah flora setengah fauna. Pasalnya, siput yang baru ditemukan ini bisa menghasilkan pigmen klorofil seperti layaknya tumbuh-tumbuhan.Para ilmuwan memperkirakan, siput cerdik tersebut mencuri gen dari alga yang mereka makan sehingga bisa menghasilkan klorofil. Dengan gen " curian", mereka bisa berfotosintesis, yaitu proses tumbuhan untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi. "Hewan ini bisa membuat molekul berisi energi tanpa makan apa-apa," kata Sydney Pierce, pakar biologi dari Universitas South Florida di Tampa. Pierce telah mempelajari mahluk unik tersebut, yang telah resmi dinamakan Elysia chlorotica , selama 20 tahun. Ia mengajukan temuan terbarunya pada tanggal 7 Januari 2010 , pada pertemuan tahunan Komunitas Integratif dan Perbandingan Biologi di Seattle. Temuan ini dilaporkan pertama kali oleh jurnal Science. "Ini pertama kalinya hewan multiseluler bisa menghasilkan klorofil," tutur Pierce. Siput laut ini tinggal di rawa-rawa air asin di New England, Kanada. Selain " mencuri" gen untuk menghasilkan pigmen hijau klorofil, hewan ini juga mencuri bagian-bagian kecil sel yang disebut kloroplas, yang dipakai untuk melakukan fotosintesis. Kloroplas menggunakan klorofil untuk mengubah cahaya matahari menjadi energi, seperti tanaman, sehingga hewan ini tak perlu makan untuk mendapatkan energi. "Kami mengumpulkan sejumlah hewan tersebut dan menyimpannya di akuarium selama berbulan- bulan," kata Pierce, "Asalkan diberi cahaya selama 12 jam sehari, mereka bisa bertahan (tanpa makan)." Para peneliti memakai pelacak radioaktif untuk memastikan bahwa siput- siput ini benar-benar menghasilkan klorofil, dan bukan mencurinya dari pigmen yang sudah pada alga. Nyatanya, siput-siput ini mengintegrasikan materi genetika dengan sangat sempurna sehingga bisa diturunkan pada generasi selanjutnya. Anak-anak dari siput yang sudah "mencuri" gen juga bisa menghasilkan klorofil sendiri, walaupun mereka tak bisa berfotosintesis sebelum mereka makan cukup alga hingga bisa " mencuri" cukup kloroplas. Sejauh ini, kloroplasnya belum bisa mereka produksi sendiri. Keberhasilan siput- siput ini mengagumkan, dan para ilmuwan juga masih belum bisa memastikan, bagaimana hewan ini bisa memilih gen yang mereka butuhkan. "Mungkin saja DNA dari satu spesies bisa masuk ke spesies yang lain, seperti yang telah dibuktikan oleh siput jenis ini. Tapi mekanismenya masih belum diketahui," ungkap Pierce.